WEBINAR SOSIALISASI PROGRAM ILMUWAN MUDA PAPUA TAHUN 2020

Manokwari- Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat bersama Yayasan EcoNusa gelar WEBINAR Sosialisasi Program Ilmuwan Muda Papua Tahun 2020, dalam kesiapan pelaksanaan program ilmuwan muda Papua (Rabu, 08/07/2020).

Dalam video conference, Direktur Program Yayasan EcoNusa Muhammad Farid, menyampaikan dasar pelaksanaan dan hal-hal teknis program ilmuwan muda Papua dalam mencetak ilmuwan/ peneliti muda anak-anak Papua. Direktur Program Yayasan EcoNusa menambahkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mendukung Mahasiswa di Tanah Papua untuk berinovasi. “Kita melihat banyak Universitas di Tanah Papua tetapi belum ada wadah untuk menyatukan semua ilmuwan yang ada, sehingga kami menginisiatif untuk membuat suatu program guna mencetak ilmuwan muda Papua. Ada beberapa program yang kami buat untuk mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua” ujar  Farid

Dalam presentasinya, Muhammad Farid melaporkan bahwa saat ini yang terdaftar dari Universitas Papua sebanyak 22 proposal dan 9 proposal dari Universitas Cendrawasih. Dalam menutup presentasinya, Farid mengucapkan terima kasih kepada Profesor Charlie atas kolaborasi bersama Balitbangda Provinsi Papua Barat dan Profesor Jatna Supriatna dari Universitas Indonesia yang sudah membagikan pengalaman yang luar biasa dalam dunia riset. Dalam menutup penyampaiannya, ia mengharapkan hasil penelitian dari ilmuwan muda Papua nantinya, tidak hanya tersimpan dalam perpustakaan tetapi dapat dipublikasikan sehingga semua dapat mengetahui. “Kami berharap mahasiswa Papua baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta mengikuti kegiatan ini sehingga dapat berinovasi dan berkreativitas dalam dunia riset” tutup Farid

Pembicara dari Universitas Indonesia, Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., memaparkan materi terkait peran dunia akademik ilmuwan Papua dalam pembangunan berkelanjutan, serta berbagai pengalaman dalam dunia ilmiah. “Perlu kolaborasi antara Universitas dan Lembaga lainnya dalam mencetak ilmuwan muda Papua. Perguruan tinggi menjadi leader dalam mengkomunikasikan perihal perubahan iklim, yaitu memberikan pemahaman mengenai dampak perubahan iklim terhadap penduduk, pengusaha dan pemerintah” jelasnya

Dalam menutup presentasinya, guru besar ini mengatakan bahwa ini adalah kesempatan emas untuk generasi muda Papua untuk memgembangkan potensi yang ada, juga terkait bonus demografi di Indonesia sangat menarik dan potensial, serta bagaimana meningkatkan nilai dari biodiversity yang kita punya.

Setelah itu, Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si. menyampaikan materi terkait Provinsi Konservasi dalam implementasi kebijakan pembangunan berkelanjutan berbasis riset keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Prof. Charlie mengatakan bahwa permasalahan keanekaragaman hayati di Tanah Papua berkaitan dengan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati Tanah Papua yang masih parsial dan belum lengkap, kekurangan SDM dan fasilitas penelitian dasar mapupun lanjutan, serta belum ada database dan koleksi acuan keanekaragaman hayati. Tekanan dan acaman terhadap kelestarian keanekaragaman hayati sebagai akibat perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan (sustainability) dan perubahan iklim.

Pembangunan berkelanjutan tidak lepas dari kondisi sosial dan ekonomi Provinsi Papua Barat dengan luasan hutan yang masih maksimal. Akibat kondisi tersebut pemerintah pusat dan daerah sedang memacuh pembangunan untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan. “Beberapa tahun terakhir ada kesadaran bahwa sebagai Provinsi konservasi, kita perlu melestarikan Keanekaragaman Hayati. Hutan di Papua telah dikaveling dan merupakan daerah konsensi kelapa sawit dan lainnya. Bahkan daerah yang masih kosong adalah daerah konservasi sehingga belum dibuka. Ketika daerah hutan di Wilayah Papua rusak maka, dampak bukan hanya di Papua saja tetapi bisa menglobal.

Koleksi keanekaragaman di Papua barat masih kurang, banyak daerah yang belum tersentuh. Belum banyak daerah yang kita jangkau tetapi sudah dikuasai oleh perusahaan sehingga dikwatirkan aktivitas pembangunan bisa mempengaruhi keanegaraman hayati yang ada. “Kabar mengembirakan bahwa kebetulan saya orang botani, khusus untuk tumbuhan sudah beberapa didata. Namun, ada banyak daerah yang belum dijangkau. Saya berharap dengan adanya teknologi kita dapat mengalami masa keemasan” jelas Prof. Charlie

Sebagai gambaran bahwa adanya penemuan Pinang Jokowi merupakan kontribusi keanekaragaman hayati. Ada bagian hasil riset yang kita hasilkan dan dapat mempengaruhi pengambil kebijakan di daerah. “Saya mendorong program ini untuk terus berlanjut menjadi program rutin, dimulai tahun 2020. Selama ini wali data dari dari luar negeri, padahal kita punya potensi. Bahkan kita harus ke luar negeri untuk melihat koleksi spesimen dan lainnya. Sehingga kita harus memikirkan bagaimana memiliki database. Flora dan Fauna di Papua memiliki nama lokal, jika spesies itu hilang maka namanya juga akan hilang. “Dengan keberanian Bapak Gubernur Papua Barat (Drs. Dominggus Mandacan) mendapat penghargaan sebagai “Pahlawan Konservasi”. Selain itu, melalui kebijakan yang ada diharapkan masyarakat adat bisa mendapatkan insentif. Agar mereka sadar bahwa dengan menjaga hutan mereka juga dihargai.

“Saya berharap teman-teman yang terpilih akan berkontribusi nyata melalui hasil riset dan bermanfaat dalam mengawal agenda deklarasi Manokwari, pengembangan ekonomi hijau, komunitas lokal non deforestasi, Pembangunan Museum Sejarah Alam, pengembangan Science Techno Park, Kawasan strategis Provinsi berfungsi lindung Mahkota Permata Tanah Papua, Penyelenggaraan Internasional Flora Malesiana Simposium ke-12 di Manokwari”

“Hutan di Tanah Papua bukan tanah kosong tetapi dari turun temurun sudah ada pemiliknya. Kami prioritaskan adik-adik muda yang akan diarahakan dalam penyelengraan Internasional Flora Malesiana Simposium nantinya. Kita semua akan banggah dengan proses kaderisasi ini yang juga akan berlangsung di labroatorium alam, sungai, hutan, laut, dan lainnya” tutup Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat

Setelah penyampaian materi, Rina Kusuma selaku Program Manager Mobilisasi Dukungan publik dan kaum muda Yayasan EcoNusa memandu peserta diskusi online ini untuk mengajukan  pertanyaan terkait  materi dan hal-hal teknis yang secara langsung ditanggapi baik oleh para narasumber. (Lin.B)


Banner
Video

Agustus

MINSENSELRAMKAMJUMSAB
2627282930311
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
303112345