Profil Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat

     Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS lahir di Manokwari, pada 6 Desember 1973. Profesor berumur 47 tahun ini memiliki segudang pengalaman kerja, baik pada akademisi tingkat perguruan tinggi, dunia riset di Indonesia dan internasional serta birokrat pemerintahan. Sejak 11 Januari 2017 hingga 19 Juli 2018 mengawali karir pada Birokrat Pemerintahan (Pegawai Penugasan) sebagai Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat sekaligus menjalankan tugas sebagai Sekretaris Badan. Pada 20 Juli 2018 dilantik oleh Gubernur Papua Barat (Drs. Dominggus Mandacan) sebagai Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat dan menjabat hingga saat ini.

 

     Sebelum menjalankan pengawasan di birokrasi pemerintahan daerah, Profesor Heatubun adalah Guru Besar Botani Hutan dan Sumber Daya Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua. Selain itu, Profesor Heatubun sejak 2013 menjadi peneliti kehormatan (Honorary Research Associate), The Royal Botanic Gardens Kew, Richmond, Inggris (UK) hingga saat ini dan sebagai orang Indonesia pertama (satu-satunya sampai saat ini) yang diterima sebagai Fellow of The Linnean Society of London (FLS) – Organisasi Peri Kehidupan Alam (Natural History) yang tertua dan bergengsi di dunia.


     Profesor Heatubun menyelesaikan studi S1 Kehutanan pada tahun 1997, di Fakultas Pertanian, Universitas Cenderawasih Manokwari kala itu. Pada tahun 2006 meraih gelar Magister pada Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat, Indonesia. Selanjutnya tahun 2009 menyelesaikan studi S3 dengan predikat suma cum laude di IPB, dan The Royal Botanic Gardens Kew, Inggris (UK), dan melanjutkan Postdoctoral pada institusi yang sama : “Proyek Palem Dunia Lama” pada tahun 2011.


     Profesor Heatubun memiliki keahlian umum pada Keanekaragaman Hayati, Ilmu Lingkungan, Konservasi, Kehutanan, Pengelolaan dan Kebijakan Penelitian dan Pengembangan. Penelitian Taksonomi dan monografi suku palem-paleman (Arecaceae); penelitian floristik di New Guinea dan Maluku; Pengajaran dan penelitian tentang ekologi hutan, botani dan konservasi; kerja lapangan dan pengumpulan data di wilayah Malesia; membimbing mahasiswa dan mengkaderkan staf muda; pengembangan program kolaboratif di dalam negeri dan mitra luar negeri; membangun herbarium dan kebun raya di area yang kaya akan flora lokal.


       Selain menjalankan tugas sebagai Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Guru Besar, Profesor Heatubun sejak 2014 mengajar beberapa mata kuliah pada Program Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan, Kehutanan dan Biologi pada Sekolah Pascasarjana UNIPA, dan memberikan kuliah umum di beberapa Universitas di dalam dan luar negeri.


Profesor Heatubun sejak tahun 2000 hingga saat ini menghasilkan 38 riset kelas dunia yang telah dipublikasi pada jurnal internasional (Palms 10 ; Kew Bulletin 7; Folia Malaysiana 2; Systematic Botany 1; Blumea 1; Phytotaxa 7; Botanical Journal of Linnean Society 1; Taxon 1; European Journal of Taxonomy 1; Biodiversity Conservation 1; Orchideenjournal 1; Forest and Society 1; Annals of Forest Science 1; Development in Practice 1; Science Advances 1; Nature 1). Pengalaman luar biasa pada tahun 2020, Profesor Heatubun terlibat dalam penelitian global bersama 99 ahli Botani dari 56 institusi di 19 negara untuk pertama kali merangkum data dan membuat daftar semua spesies tumbuhan di Pulau Papua atau New Guinea. Publikasi dengan judul New Guinea has the world’s richest island flora yang dirilis pada Rabu (05/8/2020) di jurnal bergengsi Nature 148–151( https://doi.org/10.1038/s41586-020-2549-5 ), karya monumental ini membanjiri semua media internasional, nasional secara cetak maupun online bahkan juga media lokal di Tanah Papua.


Sebagai penghargaan atas kontribusi dalam bidang Taksonomi Tumbuhan, Profesor Heatubun diabadikan namanya (eponim) pada salah satu jenis endemik rotan dari Sorong dan Raja Ampat, Papua Barat yaitu, Calamus heatubunii W.J.Baker & J.Dransf. – Phytotaxa 305: 68 (2017). Dirinya menulis 5 buku terkait flora bersama rekan-rekannya. Bertugas sebagai editor dan reviewer jurnal ilmiah : Phytotaxa, Journal of the International Palm Society (Palms), Banwa (University of the Philippines Mindanao), Jurnal Manajemen Hutan Tropika (Bogor Agricultural University & Association of Indonesian Forestry Scientist – IPB & PERSAKI), Biodiversitas (Journal of Indonesia Biodiversity Society), BioCelebes (Faculty of Matematics & Natural Sciences of Tadulako University), Agricola (Journal of Agriculture of Musamus University), Kehutanan Papuasia, Annals of Silvicultural Research, The Philippines Journal of Biosystematics. Editor pada 3 buku hasil penelitian Balitbangda Provinsi Papua Barat, Reviewer Internal Universitas Papua, Reviewer Internal dan Eksternal Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, National Geographic Society (USA). Saat ini sebagai Pimpinan redaksi pada Jurnal Ilmiah Pembangunan Berkelanjutan Igya Ser Hanjop dan pengarah pada Majalah Kasuari Inovasi Balitbangda Provinsi Papua Barat ( 2019 – sekarang).


Sejak tahun 1998 hingga saat ini, telah menjadi anggota asosiasi profesi nasional maupun internasional dalam dunia flora. Profesor Heatubun sejak tahun 2003 telah bergabung menjadi anggota, konsultan bahkan pemimpin pada beberapa kegiatan terkait Biodiversity lokal, nasional dan internasional, serta tugas lainnya untuk Perencanaan dan Pembangunan Daerah.


Profesor Heatubun membuat terobosan baru di Provinsi Papua Barat dengan menyatukan Mitra Pembangunan dalam mendukung inisiatif Papua Barat sebagai Provinsi Pembangunan Berkelanjutan (Provinsi Konservasi), mendorong wirausaha muda Papua untuk berinovasi dan bahkan membangun dan memperluas kerjasama secara global. Sebagai tokoh kunci dibalik suksesnya acara internasional di Tanah Papua, yaitu ketua tim pengarah (Steering Committee) pada International Conference on Biodiversity, Eco-Tourism and Creative Economy Papua (ICBE) 2016 di Jayapura, Provinsi Papua dan Ketua Panitia (Organizing Committee) pada International Conference on Biodiversity, Ecotourism and Creative Economy (ICBE) 2018 di Manokwari, Provinsi Papua Barat. Profesor Heatubun adalah pencetus dan ide dibalik lahirnya Deklarasi Manokwari dan Deklarasi Teminabuan. Juga tokoh dibalik pengesahan Perdasus Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pembangunan Berkelanjutan di Provinsi Papua Barat yang mana komitmen melindungi minimal 70% luas areal hutan dan 50% Pesisir dan Laut dari luas total Provinsi Papua Barat. Juga pernah sebagai Ketua Delegasi Pemerintah Provinsi Papua Barat pada Oslo Tropical Forest Forum, di Oslo, Norwegia tahun 2018 dan Conservation International and Elle Magazine Annual Gala Dinner di Los Angeles, Amerika Serikat tahun 2019, dimana Gubernur Papua Barat (Drs. Dominggus Mandacan) dianugerahi penghargaan “Global Conservation Hero Award”.

 

Banner
Video

September

MINSENSELRAMKAMJUMSAB
303112345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930123