"Suasana meeting The 12th International Flora Malesiana Symposium (FM12) dan International Nature-Based Climate Solutions Conference (NBCS)" dok.brida_mediapapuabarat
BridaNews_Manokwari_Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama para mitra nasional dan internasional menggelar Rapat Teknis utama dalam rangka persiapan pelaksanaan The 12th International Flora Malesiana Symposium (FM12) dan International Nature-Based Climate Solutions Conference (NBCS) yang akan berlangsung pada 9–14 Februari 2026 di Manokwari.
Rapat teknis tersebut dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, akademisi, masyarakat sipil, pihak berwajib, mitra pembangunan, serta event organizer, sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapan teknis dan operasional penyelenggaraan dua agenda internasional berskala besar tersebut.
Asisten III Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Otto Parorongan, SKM, M.Kes, dalam arahannya mewakili Gubernur Papua Barat, menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan internasional ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi Provinsi Papua Barat, khususnya Manokwari sebagai tuan rumah. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari kelancaran pelaksanaan acara, tetapi juga dari kenyamanan peserta, kualitas pelayanan, serta kesan positif yang ditinggalkan bagi para tamu dari berbagai negara.

"Arahan Gubernur Papua Barat yang diwakili oleh Asisten III Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Otto Parorongan, SKM, M.Kes" (dok.brida_mediapapuabarat)
“Kita ingin para peserta pulang dengan membawa cerita baik tentang Manokwari dan Papua Barat, tentang keramahan masyarakatnya, kesiapan penyelenggaraannya, dan profesionalisme pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas perangkat daerah dan mitra terkait, khususnya dalam hal akomodasi, transportasi, konsumsi, keamanan, dan layanan kesehatan, mengingat waktu pelaksanaan kegiatan yang semakin dekat.
Sementara itu Ketua Bersama Panitia yang juga mewakili unsur Pemerintah Daerah Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS menjelaskan bahwa Flora Malesiana merupakan insiatif ilmiah internasional yang telah berlangsung sejak tahun 1948 yang digagas oleh Professor C.G.G. J. van Steenis dan menjadi wadah utama bagi para ahli botani dunia untuk melaporkan perkembangan riset, sistematika tumbuhan, serta penemuan spesies baru di kawasan Fitogeografi Malesia. Malesia adalah kawasan atau wilayah sebaran tumbuhan yang meliputi negara Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Sementara Simposium Flora Malesiana sebagai forum pertemuan ilmiah atau silahturami ilmiah, dimulai sejak tahun 1989 dengan interfal waktu setiap tiga tahun yang mana kota-kota Leiden, Yogyakarta, Kew, Sydney, Kepong, Los Banos, Singapura, Singapura, Bogor, Edinburgh, Bandar Sri Begawan pernah melaksanakan pertemuan ilmiah ini.
“Manokwari seharusnya menjadi tuan rumah pada tahun 2022, namun tertunda akibat pandemi COVID-19. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek kesiapan dan arahan pimpinan daerah, pelaksanaan akhirnya ditetapkan pada Februari 2026,” jelas Profesor Heatubun.
Simposium ke-12 ini diperkirakan akan diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai negara, yang terdiri atas peneliti, akademisi, mahasiswa, praktisi, dan pengambil kebijakan.
Pelaksanaan FM12 tahun ini dirangkaikan dengan International Nature-Based Climate Solutions Conference, sebagai upaya menjembatani hasil riset ilmiah dengan implementasi kebijakan pembangunan dan solusi nyata dalam menghadapi krisis global; yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, krisis energi, krisis pangan dan air.
“Konferensi ini diharapkan mampu mendorong pemanfaatan solusi iklim berbasis alam, baik dalam konteks konservasi keanekaragaman hayati, pendanaan iklim, maupun dukungan terhadap kebijakan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, hingga global,” tambah Ketua Panitia Bersama.
Struktur kepanitiaan kegiatan ini mengadopsi konsep Ketua Bersama, yang merepresentasikan kolaborasi lintas sektor, yaitu pemerintah daerah, akademisi (Universitas Papua), dan masyarakat sipil melalui mitra pembangunan.

"Beberapa petunjuk penting yang disampaikan oleh Ketua Bersama Panitia yang juga mewakili unsur Pemerintah Daerah Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS" (dok.brida_mediapapuabarat)
Dalam rapat teknis tersebut, panitia bersama dan event organizer memaparkan secara rinci rangkaian kegiatan, mulai dari side event, agenda pembukaan, pelaksanaan simposium dan konferensi, hingga field trip ke sejumlah lokasi unggulan di Papua Barat, seperti Pegunungan Arfak dan Teluk Bintuni. Seluruh rangkaian kegiatan ini dikemas dalam satu kesatuan bertajuk The Papua Bio-Cultural and Climate Week 2026.
Selain agenda ilmiah, kegiatan ini juga dirancang untuk memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi daerah, antara lain melalui pelibatan pelaku usaha lokal, promosi pariwisata, pameran mitra pembangunan, serta ruang bagi produk dan kerajinan lokal untuk diperkenalkan kepada peserta internasional.
Rapat teknis berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari perwakilan perangkat daerah, termasuk terkait pengaturan protokoler, kesehatan, keamanan, media, serta dukungan teknis lainnya. Seluruh masukan tersebut akan ditindaklanjuti dalam rapat-rapat teknis lanjutan di tingkat masing-masing seksi kepanitiaan.
Sebagai penutup, Ketua Bersama Panitia kembali menegaskan pentingnya sinergi dan komitmen seluruh pihak dalam menyukseskan pelaksanaan FM12 dan NBCS 2026. “Kegiatan ini bukan hanya tentang forum ilmiah internasional, tetapi juga tentang bagaimana Papua Barat menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang baik serta berkontribusi nyata dalam isu global keanekaragaman hayati dan perubahan iklim,” tutupnya.
Dengan dilaksanakannya rapat teknis utama ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui BRIDA bersama seluruh pemangku kepentingan optimistis bahwa pelaksanaan The 12th International Flora Malesiana Symposium dan International Nature-Based Climate Solutions Conference dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat strategis bagi pembangunan daerah secara berkelanjutan di Papua Barat. (ars/brida_mediapapuabarat)

