Gubernur Papua Barat Resmikan Rumah Produksi Cokelat Ransiki

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan menandatangani prasasti peresmian Rumah Produksi Pengolahan Cokelat Mansel milik Koperasi Ebier Suth, Jumat(24/07/2020).

RANSIKI,- Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan meresmikan Rumah Produksi Cokelat milik Koperasi Ebier Suth di Ransiki Manokwari Selatan, Jumat(24/07/2020). Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti bersama Pelaksana tugas (Plt) Bank Indonesia Papua Barat, Joko Supratikto dan pembukaan selubung papan nama rumah produksi cokelat oleh Bupati Kabupaten Manokwari Selatan, Markus Waran.

Selanjutnya Gubernur Papua Barat, didampingi Ibu Yuliana Mandacan, Ketua DPRD Papua Barat, Orgenes Wonggor, Plt Bank Indonesia Papua Barat, Wakil Kejaksaan Tinggi Papua Barat, Rudy Hartono dan Bupati Manokwari Selatan, berkesempatan melihat langsung proses pembuatan cokelat di rumah produksi pembuatan cokelat yang dalam bahasa setempat disebut Tu Mej Naug Cokelat Mansel.

Rumah Produksi Cokelat Mansel beserta peralatan olahan cokelat ini merupakan bantuan dari Bank Indonesia, selaku mitra pembangunan Pemerintah Daerah. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan usaha produksi cokelat mansel yang dikerjakan oleh Koperasi Ebier Suth Ransiki.

Acara penyerahan bantuan peralatan pengolahan cokelat dan peresmian rumah produksi cokelat ini, turut disaksikan Asisten III Setda Papua Barat, Reymond Hendrik Yap, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Papua Barat, Abdul Latief Suaeri, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Papua Barat, George Yarangga serta Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Papua Barat, Prof. Charlie D.Heatubun.

Nama yang disebut terakhir, merupakan orang dibalik kebangkitan Cokelat Ransiki atau Cokelat Mansel dalam beberapa tahun terakhir ini. Tahun 80-an hingga 90-an, melalui PT.Cokran, Coklat Ransiki begitu terkenal,tapi kemudian redup dan hilang bahkan menelantarkan ribuan karyawannya.

Kemudian sejak dilantik Gubernur Papua Barat, Prof Charlie membuat terobosan penting yang jarang bahkan tidak pernah dilakukan pimpinan OPD lainnya, yakni menjalin kolaborasi dengan mitra strategis pembangunan. Prof.Charlie yang kemudian menjembatani pertemuan antara pihak Koperasi Ebier Suth, Pemkab Mansel dan PT.Pipiltin Jakarta, salah satu investor dalam negeri.

Hasilnya, PT.Pipiltin Jakarta sekarang menjadikan Cokelat Ransiki sebagai produk unggulan mereka. Bahkan, Prof. Charlie juga yang kemudian menjembatani promosi Cokelat Ransiki ini sampai ke Amerika dan sekarang sudah merambah ke Eropa. Oleh sebab itu, sekarang Pemerintah Papua Barat telah menjadikan Kakao ini sebagai salah satu komoditas unggulan yang akan dikembangkan.

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan pada kesempatan itu mengatakan, pengembangan kakao sebagai salah satu komoditas lokal unggulan non deforestasi di Papua Barat adalah program prioritas dan kebijakan utama Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat dalam rangka pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Rencana pengembangan komoditas ini telah menjadi perhatian dan telah disusun dalam grand disain investasi hijau papua barat dan peta jalan pengembangan komoditas unggulan non deforestasi. “Untuk lebih mengefektifkan upaya-upaya ini,  saya telah memerintahkan untuk dibentuk satuan tugas komoditi unggulan (termasuk untuk komoditi kakao) yang beranggotakan para pihak dari sektor hulu sampai hilir, termasuk salah satu anggotanya adalah pihak Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Papua Barat,” tutur Dominggus Mandacan.   

Bank Indonesia, sambung Gubernur, telah menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemda Kabupaten/Kota dalam mendorong perekonomian Papua Barat ke arah yang lebih baik. Hal ini tampak jelas melalui beberapa sinergi program antara lain yaitu Bank Indonesia telah menginisiasi pembentukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun seluruh kabupaten/kota sebagai upaya menjaga kestabilan harga bahan pangan pokok di Papua Barat dan Bank Indonesia juga telah menjadi penasehat pemerintah dalam pengambilan kebijakan makro ekonomi di Papua Barat.

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia juga berkomitmen dalam upaya menekan current account devisit (cad) dengan meningkatkan geliat sektor pariwisata melalui upaya menjadikan Papua Barat menjadi daerah sentra pengolahan kakao yang nantinya di kenal Indonesia maupun mancanegara. “Kami optimis akan hal ini, mengingat komoditas kakao dari manokwari selatan merupakan salah satu varitas kakao unggulan di Indonesia yang memiliki beberapa cita rasa yang tidak dimiliki oleh kakao di daerah lain,” tandas Gubernur Papua Barat.

 Gubernur Papua Barat juga berharap melalui kegiatan pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Bank Indonesia, dapat terwujud UMKM yang berkualitas dan memiliki daya saing yang mumpuni, berorientasi ekspor dan mendukung pengembangan pariwisata dalam upaya menekan current account deficit (cad) Negara Indonesia. Kegiatan pengembangan ini juga diharapkan mampu mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam rangka memperluas akses pemasaran, pembiayaan maupun transaksinya, dan mendorong keikutsertaan dalam pameran & event internasional untuk akses pasar global.

Pemerintah Provinsi juga secara aktif telah membantu pengembangan komoditi kakao ini. Tercatat beberapa kali upaya telah dilakukan, seperti promosi dan mendorong kerjasama diberbagai  kesempatan acara baik nasional maupun internasional (salah satunya saat pertemuan tingkat tinggi investasi hijau di Sorong bulan februari 2020), ekspor perdana enam ton dengan tujuan eropa pada bulan januari 2020 yang lalu, juga termasuk nilai tambah kakao dan produk olahan lewat kerjasama mitra pembangunan yayasan inisiatif dagang hijau (yidh) dan Perusahaan Cokelat Pipiltin Cacao di Jakarta yang memperkenalkan Cokelat Ransiki 72 persen singel orijin. “ Dimana telah membawa produk ini untuk pertama kali ke Hollywood, Los Angeles – Amerika dan menjadi oleh-oleh khas dalam acara gala dinner Penganugerahan Pahlawan Konservasi Global kepada saya di sana,” ujar Gubernur.

Untuk itu kepada para pengurus Koperasi Ebier Suth serta petani kakao di Ransiki, Gubernur Dominggus Mandacan berpesan, agar bantuan yang diberikan oleh Bank Indonesia ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya sehingga dapat membantu dalam meningkatkan inovasi dan nilai tambah produk, sehingga kakao tidak hanya dijual baik dalam negeri maupun diekspor dalam bentuk biji kering, namun bisa berupa kakao yang telah diolah menjadi cokelat. Dengan adanya bantuan ini juga diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dalam rangka membantu perekonomian masyarakat di Manokwari Selatan.

Gubernur juga berpesan kepada Bupati Manokwari Selatan beserta jajarannya agar dapat melakukan pengawasan secara langsung terhadap penggunaan bantuan ini dengan mengoptimalkan kinerja OPD terkait untuk bersama-sama mengawal keberhasilan program agar nantinya menjadi produk unggulan dan menjadi ikon Kabupaten Manokwari Selatan dan Ikon Papua Barat.

Sementara itu Pelaksana tugas (Plt) Bank Indonesia Papua Barat, Joko Supratikto mengaku senang dan bangga, karena acara penyerahan bantuan peralatan pengolahan coklat dan peresmian rumah produksi itu langsung dihadiri Gubernur Papua Barat dan Bupati Manokwari Selatan.

Joko menjelaskan, Koperasi Ebier Suth ini sudah berjalan melalui penjualan dan ekspor, dalam bentuk fermentasi biji Kakao, dan kualitasnya cukup baik sehingga ini diterima oleh masyarakat internasional. Karena itu, pihak Bank Indonesia membuat program yang disebut hilirisasi, tujuannya memberikan nilai tambah yang lebih pada olahan kakao tersebut. Ini juga akan menambah nilai lebih kepada petani dan pengurus koperasi.

“Jadi yang sebelumnya dikirim dalam bentuk fermentasi biji kakao, sekarang sudah bisa diolah menjadi serbuk atau batangan coklat yang siap dikonsumsi masyarakat umum.

Pendampingan yang dilakukan Bank Indonesia ini, sambung Joko, akan berlangsung selama 3 tahun, yang terbagi dalam beberapa fase. Fase awal akan lebih menekankan pada produksinya, yakni bagaimana mendorong pengolahan kakao ini menjadi produk yang siap dikonsumsi. “ Tadi saya sempat rasa, ternyata tidak kalah dengan coklat internasional, baik Cokelat Swiss atau Cokelat Belgium. Ini hal yang patut kita banggakan dan patut kita dorong bersama,” tandasnya.

 Setelah memastikan produksinya jalan baik, lanjut Joko, BI akan lanjutkan dengan pendampingan untuk perijinan. “Setelah itu kita akan bantu juga pada bagian pemasarannya. Kalau ini berjalannya dengan normal, baik dan lancar, maka kami tidak ragu-ragu menghubungkan dengan teman-teman di Perbankan,” janjinya.

Joko menambahkan, upaya ini dilakukan pelan-pelan dan bertahap, agar petani dan pengurus koperasi bisa belajar dan lebih kuat dan siap menghadapi proses berikutnya.

Selanjutnya Bupati Kabupaten Manokwari Selatan, Markus Waran, dalam penyampaiannya memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Bank Indonesia.

Bupati Markus berharap perhatian kepada Koperasi Ebier Suth terus diberikan, sehingga dapat membantu meringankan beban Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan, terutama kepada eks pegawai PT. Cokran. Karena hampir sebagian besar karyawan di Koperasi Ebier Suth adalah bekas karyawan PT. Cokran yang gulung tikar.

“ Masyarakat di sini tidak ingin hanya bicara-bicara saja, tapi harus nyata apa yang dapat diberikan. Kami Pemerintah Kabupaten Mansel telah mendukung dengan memberikan anggaran tiap tahun melalui OPD teknis kepada Koperasi Ebier Suth yang menampung ribuan karyawan eks PT.Cokran yang ditelantarkan. Kami berharap ada dukungan juga dari Pemerintah Provinsi dan pihak lain untuk mengangkat kembali Cokelat Ransiki yang sudah mendunia ini,” tandas Markus Waran.(Alberth Yomo)

 

 


Banner
Video

Oktober

MINSENSELRAMKAMJUMSAB
27282930123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031